top of page
Search

Modal Spiritual vs Indonesia Maju

  • Writer: Elwin Tobing
    Elwin Tobing
  • Mar 27
  • 2 min read

Rekan Muslim menjalani puasa. Bagi sebagian, ini sudah jadi rutinitas. Bagi yang lain, tetap sakral. Rutinitas bisa membuat luput memaknai kesejatiannya. Karena itu, dibutuhkan keheningan. Jeda dari hiruk-pikuk. Untuk menangkap makna terdalam. Atau mungkin menemukan konteks baru.

 

Musim dingin 2002, saya ikut buka puasa komunitas Muslim Turki di Iowa City, AS. Di luar bersalju dan berangin. Tapi ruangan hangat. Hadir orang dari Rusia, Cina, Thailand, India, AS, dan negara lain. Kami bercanda, makan bersama, menikmati baklava. Tak ada kebencian. Padahal tragedi 9/11 baru saja terjadi.

 

9/11 membuat momen itu lebih berarti. Ternyata kita semua rapuh. Manusia fana. Mudah tergoda.

 

Buka puasa adalah simbol kemenangan atas hawa nafsu. Meski tak semua Muslim, kami hadir untuk bersyukur pada Sang Pencipta. Kami berbeda, tapi punya satu asal: kemanusiaan.

 

Saya terbiasa hidup dengan teman Muslim. Teman satu apartemen waktu kuliah berasal dari Iran, Pakistan, dan Palestina. Teman dekat saya dari Turki, Mesir, dan Senegal. Mereka beriman dengan cara pribadi. Seperti saya yang Kristen. Tak ada yang saling memaksakan.

 

Kami sering berdialog: soal hidup, negara, dan masalah sosial. Dari Iran, Mesir, sampai Indonesia, masalahnya mirip—korupsi dan kepemimpinan lemah.

 

Bagi mereka, agama adalah jalan mencari makna dan keadilan. Nilainya serupa, meski iman berbeda. Kami sadar: iman kami tak sama. Tapi perbedaan bukan tembok. Bisa jadi jembatan.

 

Kuncinya: dialog. Bukan untuk saling meyakinkan. Tapi memahami. Bukan soal menang. Tapi belajar bersama.

 

Dialog sejati dimulai dari kesadaran sebagai manusia. Banyak ingin dimengerti. Tapi lupa memahami sesama. Padahal, cukup tahu bahwa kita sama-sama manusia—itu sudah cukup untuk hidup damai.

 

Dialog lintas iman, suku, dan bangsa harus ditopang pemenuhan hak dasar: hidup, bicara, dan beribadah. Itu tanggung jawab bersama. Kita tak bisa membela kemanusiaan sambil merusaknya.

 

Saya pegang dua prinsip. Tak bisa memuji Tuhan sambil menyangkal-Nya. Tak bisa bela kemanusiaan sambil melukainya.

 

Ketamakan pada kuasa dan harta merusak kemanusiaan. Itu artinya menyangkal Tuhan.

Di Alkitab tertulis: “Lebih mudah seekor unta masuk ke lubang jarum daripada orang kaya masuk ke dalam Kerajaan Tuhan.”

 

Perumpamaan ini jelas. Terlalu melekat pada duniawi membuat kita jauh dari spiritual. Inilah inti modal spiritual, hakikat Sila pertama Pancasila yang memberi dasar kemanusiaan, kolaborasi, dan keadilan.

 

Dengan prinsip itu, Indonesia bisa jadi rumah semua orang. Tempat bebas bermimpi, merdeka, dan hidup layak.

 

Selamat menunaikan ibadah puasa.

 
 
 

Comments


bottom of page