INDONESIA 360: Meiji Restorasi Indonesia (1)
- Elwin Tobing
- Mar 23
- 2 min read

INDONESIA 360: A 360° Perspective in 360s Words.
Indonesia sarat dan menderita berat karena KKN. Di Pertamina saja, kerugian karena korupsi bisa mencapai Rp1.000 triliun. Ini baru satu BUMN. Belum termasuk kementerian/badan lain, pemerintah daerah, dan lembaga-lembaga seperti legislatif dan yudikatif.
Pemerintah lahir dari dalam, bukan dari luar masyarakat. Jadi, pemerintah adalah cerminan masyarakat. Kalau pemerintah korup, itu karena budaya masyarakat memang rentan terhadap korupsi. Nilai-nilai sosial kita memang mengandung bibitnya. KKN hanyalah gejala dari masalah yang lebih dalam.
Di awal era reformasi, Indonesia mengalami krisis multidimensi. Menurut saya, krisis tersebut bisa diringkas dalam dua kata: krisis nilai. Tahun 2002, saya mengajukan proposal buku ke penerbit berjudul Membangun Indonesia Berbasis Nilai. Ketika itu, saya hampir setiap hari menulis artikel di blog The Prospect tentang bagaimana membangun Indonesia berbasis nilai.
Yang paling mendorong saya menulis buku itu adalah satu kalimat dari pendeta saya di Iowa City, AS, Jeff Gilmore:
“Don’t let your ambition drive your character; let your character drive your ambition.”
Saya terhenyak. Kalimat sangat dalam dan mengiang terus. Sangat relevan di segala waktu dan ruang.
Virus utama yang mendorong KKN adalah ambisi yang salah. Ambisi yang tidak dikendalikan karakter. Selama ini, di masyarakat kita, ambisi yang mengendalikan karakter. Ini berbahaya. Karakter jadi rusak demi ambisi pribadi.
Siapa kita membentuk apa yang kita inginkan dan sejauh mana kita mengejarnya. Nilai dan cara pandang membentuk ambisi; yang rendah hati ingin melayani, yang tamak ingin menguasai.
Sebaliknya, ambisi juga bisa mengubah karakter. Dikejar tanpa kendali, ambisi bisa mengikis nilai dan mengubah orang baik jadi tamak dan kejam.
Saya pernah tanya mahasiswa saya yang selalu mengantuk. Ternyata dia kerja tiap hari di dua restoran sampai tengah malam. Uangnya ditabung untuk misi sosial ke Kenya selama satu semester. Ambisinya digerakkan oleh karakter—bukan ketamakan.
Tahun 2009, saya akhirnya menulis The Indonesian Dream. Dalam ulasannya, John Riady menulis:
“Membangun bangsa yang unggul membutuhkan transformasi mendasar yang dimulai dari pola pikir dan keyakinan yang benar. Alih-alih berfokus pada tantangan-tantangan permukaan yang dihadapi Indonesia, buku ini secara tepat menyentuh inti permasalahan. Nilai dan keyakinan inilah yang disampaikan dengan lugas oleh Elwin Tobing dalam buku ini... Ukuran kemajuan sejati, menurutnya, bukanlah pertumbuhan GDP semata, melainkan tercapainya pola pikir dan nilai yang benar.”
Indonesia memang butuh revolusi sistim nilai.
コメント