top of page
Search

Danantara: Liverpool atau Inter Milan?

  • Writer: Elwin Tobing
    Elwin Tobing
  • Mar 22
  • 2 min read

(Ini seri INDONESIA 360: A 360° Perspective in 360s words). Versi panjang tulisan ini bisa diminta kepada kami.


Bagi pencinta sepak bola, Liverpool dan Inter Milan bukan nama asing. Lebih dari itu, perjalanan dua klub ini dalam 15 tahun terakhir menawarkan dua model kontras yang relevan sebagai cermin bagi arah Danantara.

 

Liverpool: Model Transformasi

Setelah masa kejayaan di era 1970–80-an, Liverpool terpuruk akibat krisis keuangan dan prestasi. Pada 2010, Fenway Sports Group (FSG) mengakuisisi klub ini , melunasi utang, dan memulai restrukturisasi: ekspansi stadion, strategi transfer berbasis data, serta rekrutmen manajer Jürgen Klopp dan beberapa pemain top.

 

Hasilnya luar biasa—8 trofi utama, dari juara Inggris, Eropa, dan dunia. Dalam 14 tahun, valuasi meningkat 1100%, dari $476 juta menjadi $5.37 miliar. FSG merestorasi dan transformasi reputasi global Liverpool tidak saja sebagai klub tetapi sebagai institusi sepak bola modern.

 

Inter Milan: Investasi Pragmatis

Setelah sukses treble pada 2010, Inter mengalami penurunan. Konsorsium Indonesia yang dipimpin Erick Thohir melalui International Sport Capital (ISC) mengakuisisi mayoritas saham pada 2013, lalu menjualnya secara bertahap ke Suning Group dengan keuntungan moderat. Meski manajemen lebih efisien, kurangnya investasi jangka panjang dan strategi transfer yang kurang efektif membuat Inter kesulitan bersaing.

 

Model ISC berfokus pada efisiensi dan valuasi, bukan transformasi menyeluruh. Setelah diambil alih oleh Suning, Inter mampu kembali meraih gelar Serie A 2020/21. Untuk orientasi bisnis, model investasi pragmatis ini sah-sah saja.

 

BUMN dan Danantara

 

BUMN Indonesia, seperti klub sepak bola, beroperasi di dua arena: kinerja bisnis dan ekonomi nasional. Namun, kinerja keuangannya masih lemah. Rasio utang tinggi (LAR 67%), ROE (9,5%) dan ROA (3,1%) rendah. BUMN juga dibebani masalah sistemik: patronase politik, korupsi, dan birokrasi yang menghambat inovasi serta pengambilan keputusan strategis.

 

Secara strategis, BUMN belum mampu mengintegrasikan ekosistem pembangunan ekonomi yang kompetitif. Sektor-sektor potensial seperti agroindustri dan manufaktur masih tertinggal, sementara fokus berlebihan pada sektor jasa justru melemahkan basis industri nasional.

 

Menuju visi Indonesia 2045, dibutuhkan transformasi struktural BUMN. Di sinilah peran fundamental Danantara menjadi krusial. 

 

Bila Danantara model investor dengan orientasi profit, status quo tak akan berubah. Jika menjadi transformer seperti FSG di Liverpool—mengintegrasikan ekosistem pembangunan nasional berdaya saing, memperkuat tata kelola, dan meminimalkan intervensi politik—maka potensi BUMN sebagai lokomotif ekonomi bisa terwujud.

 

Indonesia butuh Danantara sebagai transformer, bukan sekadar investor. Jika itu visinya, inisiatif Presiden Prabowo layak mendapat dukungan penuh.

 
 
 

Comments


bottom of page